Ekonomi global lagi ‘meriang’. Inflasi ‘naik-turun’, perang gak jelas, rantai pasok ‘batuk-batuk’. Dunia lagi ‘sakit’. Kami (The Future Economist) duduk bareng (Nama Pakar) untuk nanya: “Indonesia harus gimana?”
“Lihat, dunia ini lagi ‘mabuk’ utang dan ‘kecanduan’ stimulus murah,” kata (Nama Pakar). “Sekarang lagi ‘sakaw’-nya. Yang realistis aja, 2-3 tahun ke depan gak bakal gampang. Slowdown itu pasti.”
“Tapi, Indonesia itu ‘unik’. Kita gak perlu ikut ‘sakit’. Resep kita: jangan jadi ‘pasien’, jadilah ‘apotek’-nya,” lanjutnya. “Dunia ‘sakit’ butuh apa? Energi bersih (Green), pangan (Food), dan bahan baku baterai (Nikel). Kita punya semua! Fokus ke sana!”
“Resep ini gak gratis,” tutup (Nama Pakar). “Syaratnya cuma satu: ‘dapur’ di dalem (politik, hukum) harus stabil. Investor bule itu gak takut ‘hantu’, mereka takut ‘ketidakpastian hukum’. Benahi itu, dan RI jadi ‘apotek’ dunia.”
Intisari:
- (Nama Pakar) menyebut ekonomi global ‘sakit’ karena ‘sakaw’ stimulus/utang (pasti slowdown).
- Resep untuk RI: jangan jadi ‘pasien’, tapi jadi ‘apotek’ (penyedia) kebutuhan dunia.
- Fokus utama RI: Energi Hijau, Pangan, dan Bahan Baku Baterai (Nikel).
- Syarat mutlak: stabilitas politik dan kepastian hukum di dalam negeri.

